Kota Seribu Warung Kopi
coffee printer murah - Di ruang tunggu bandar udara H.A.S. Hanandjoeddin, ketika sedang menunggu pesawat yang akan mengantar saya kembali ke Jakarta, saya tertegun melihat poster iklan pariwisata bertuliskan "Manggar, kota seribu warung kopi." Dua hari sebelumnya saya sempat dibawa ke salah satu kedai kopi di daerah itu dan tidak percaya kalau masih ada sembilan ratus sembilan puluh sembilan warung kopi lagi di daerah yang tampak sepi itu.
Manggar adalah nama daerah yang terletak di Belitung Timur, menurut wikipedia jumlah populasi nya approximately 35ribu-an jiwa. Apa benar ada 1000 warung kopi se kecamatan itu? Atau mungkin "seribu" itu hanya kiasan seperti candi sewu yang aslinya hanya terdiri dari 249 candi. Pokoknya "seribu" itu artinya "banyak". Dan banyaknya warung kopi di daerah ini telah diputuskan menjadi suatu identitas budaya dari daerah itu sehingga muncul tagline seperti diatas.
Warung kopi yang terdapat di Manggar dan juga Belitung secara keseluruhan - layaknya warung kopi yang terdapat di sebagian daerah sumatera seperti Riau, kalau kita pesen kopi, yang keluar otomatis pasti kopi susu. Kalau mau pesen kopi hitam, namanya kopi O.
Bisnis warung kopi semacam ini ternyata sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Konon warung kopi tertua di Tanjung Pandan, Warung Kopi Ake, didirikan pada tahun 1922. Warung kopi ini sudah berdiri sejak 3 generasi, pertama didirikan oleh kakeknya Pak Ake dengan nama Warkop Senang.
Pak Ake lagi sibuk meracik kopi
Kalau di daerah Riau, Belitung, Batam, Medan banyak terdapat warung kopi yang menawarkan menu kopi O dan teh O, di Jakarta banyak bertebaran coffee shop trendi yang menawarkan menu kopi berbahasa Italia seperti Espresso dan Cappuccino, dengan interior yang se-comfy mungkin dilengkapi dengan sofa empuk dan fasilitas internet gratis. Di Aceh budaya bersosialisasi di warung kopi adalah budaya yang dianggap serius. "Urusan bisnis sampai politik, semua bisa diselesaikan di kedai kopi," kata seorang kawan yang membawa saya mencicipi kopi Ulee Kareng di salah satu kedai di Banda Aceh.
Warung kopi memang sudah menjadi bagian dari kebudayaan, bukan sekedar tempat untuk menikmati minuman berwarna hitam dengan aroma khas. Warung kopi, kedai, kopitiam, cafe, apa pun namanya adalah tempat bersosialisasi, tempat bapak-bapak melobi rekan bisnisnya, tempat ibu-ibu arisan, tempat sepasang muda-mudi memadu kasih, tempat sekumpulan teman bercengkrama, tempat janjian untuk blind date dan bisa dijadikan daya tarik pariwisata suatu daerah juga. - coffee printer murah
Artikel ini telah tayang di : http://ceritanyamila.blogspot.com
dengan Judul : Kota Seribu Warung Kopi
Penulis : Mila Said


0 Komentar